dodi. jakarta. jurnalis. kopi dengan krim. teh. rokok. rindu bandung. baca. melamun. nulis dikit. jalan-jalan sendirian.
Senin 20 September, kita telah memilih. Memilih untuk memilih, maupun memilih untuk tidak memilih. Memilih Soekarnoputri-Muzadi atau Yudhoyono-Kalla. Bagi yang ikut Pemilu, memilih diantara dua sepertinya bukan hal sulit. Tinggal coblos kiri atau kanan, apa sih susahnya?
Apakah dibalik pilihan? Ternyata lebih mudah menjawab "Apakah pilihan dibalik?" lho. NAHILIP, adalah jawabnya. Tapi yang akan diobrolin disini bukanlah "pilihan dibalik", melainkan "dibalik pilihan"!
Tak disangka tak dinyana (O ya. Apa sih "dinyana" itu? Anyone?), obrolan tentang pilihan, freewill, freedom of the will, telah menghabiskan waktu ribuan tahun! Mulai dari Socrates dan Plato hingga zaman kini dimana di pasar tertentu di kota Bandung ini sering terdengar uda-uda bersahut-sahutan, "Pililla.., pililla..!".
Pendapat tentang free will terbagi dalam dua ekstrem: determinisme dan libertarianisme. Libertarianisme singkatnya mengakui kehendak-bebas. Pendukung determinisme bilang, "tindakan manusia tidak berasal dari kehendak-bebas, melainkan hasil dari berbagai pengaruh seperti nafsu, kehendak, kondisi fisik dan hal-hal eksternal di luar kontrol individu".
Dalam hukum kausalitas, tindakan hanyalah bagian dari hubungan sebab-akibat yang berujung pada Sebab Awal, yaitu Tuhan. Tindakan adalah "akibat" yang sebelumnya didahului oleh "sebab", yang seluruhnya merupakan bagian dari rantai sebab-akibat yang tak putus, yang bila ditelusuri akan sampai pada Sebab Awal tadi. Jadi, sebuah tindakan-bebas adalah tindakan yang berada di luar rantai hukum sebab-akibat. Menerima freewill berarti negasi terhadap Sebab Awal, rasio dan membuat semesta menjadi irasional.
Dilematis! Pada Abad Pertengahan, ketidakjelasan freewill ini tergambarkan melalui Dilema "Keledai Buridan". Ceritanya, seekor keledai akhirnya mati kelaparan ketika menghadapi dua tumpuk jerami yang sama menggiurkan dan sama jauhnya dari si keledai. Sebabnya, si keledai tidak punya basis rasional untuk memilih salah satu dari dua tumpuk jerami. Ck ck ck.
Oya, Jean Buridan sendiri adalah filsuf Prancis zaman itu (1300-1358). Dilema Keledai Buridan ini dalam inggrisnya disebut Buridan's Ass, lho. Hmm, kebetulan sekali, ass adalah slang untuk burid(t). Hihihi. Yuhu, Buridan=buritan? Hellow?
Anyway, dari hasil gosip-gosip antara Socrates dan Plato, katanya mereka sampai pada kesimpulan bahwa "Manusia dapat memilih sendiri tindakannya, tetapi tindakan tersebut adalah bebas ketika berserasian dengan harmoni keseluruhan. Maka, hanya tindakan bijaklah yang merupakan tindakan bebas." What the? Mbingungi, kalo kata orang Papua mah.
Baruch Spinoza (1632-1677. Belanda) bilang, free will adalah self-determination (harfiah: penentuan-sendiri), sejauh ia sesuai dengan sifat Tuhan dan sifat alam sendiri. Maksudnya? Bah, bah dan sekali lagi, BAH!
Immanuel Kant (1724-1804. Jerman) meyakini bahwa seseorang mestilah bebas karena kebebasan adalah syarat kesadaran moral.
Bagi eksistensialis, kebebasan untuk memilih adalah ciri manusia. Manusia dikatakan, berbeda dengan binatang dan tumbuhan, tidak memiliki ciri atau sifat dasar (esensi) tertentu. Yang menjadikan manusia adalah pilihan-pilihan yang diambilnya. Kata Jean-Paul Sartre, eksistensi mendahului esensi! Maka, memilih adalah komponen sentral bagi eksistensi manusia; dan seseorang tidak dapat melepaskan diri darinya. Bahkan menolak memilih adalah sebuah pilihan jua.
Kebebasan memilih memerlukan komitmen dan tanggung jawab. Tiap individu memiliki kebebasan memilih, dan kebebasan ini datang dengan risiko dan tanggung jawab masing-masing. Kata Sartre, "Manusia dikutuk untuk bebas."
Karena artikel ini tampak sudah cukup panjang, maka saya sudahi saja ah. Lho kok seenaknya? Masih setengah jalan, nih! Gwaf gwaf gwaf. Hanya menempuh separuh jalan bukan berarti salah jalan, ceunah.
Dan, di dunia simulasi yang membuat sesuatu yang ngga nyata menjadi nyata, padahal dunia itu sendiri mungkin ngga nyata, jawaban atas pertanyaan "Is there free will?" bisa dicari jawabnya di... ... ...
google.
Yeah. That's the pain of living in the present world.
| bLub September 22, 2004 04:44 PM PDT *memberi tatapan ala muggle* Keledai Buridan ini dalam inggrisnya disebut Buridan's Ass, lho. Hmm, kebetulan sekali, ass adalah slang untuk burid(t) <--- hahaha, lucu banged. Gila luh dodz. lieur maneh. Eh gue teh tidak mencoblos, tapi tampaknya bapak kita jadi presiden ya? lumayan lah.. mun bu mega mah menuh˛in bungkusnya... jadi postingan kamu ini adalah silabus materi kuliah besok yah? ya ya.. freewill... bebas memilih untuk tidak memilih alias NETRAL | ||
| G September 22, 2004 05:51 PM PDT ikutan pemilu itu kayak mau kentut di dalam angkot Cileunyi - Tanjung Sari! pengen kentut, tapi banyak penumpang yang rata-rata anak Unpad semua! kalo ditahan malah busuk di dalam! Pemilu? kalo milih, sama aja gue ngebohongin nurani! nggak ikutan milih? takut dibilang gak gaul, gegara orang sekantor pada bercap jempol ungu! | ||
| metteya September 23, 2004 04:01 AM PDT *nyatet pelajaran pak dodi* pelajaran besok ttg apa pak? gimana kalok ttg kesedihan dan kebahagiaan ituh? *nyengir kuda* oh iya, saya ndak nyubles, daftar pun endak..milih ndak milih tetep aja negaranya gini, dari dulu "setak" kalo kata sava mah....jadi saya memilih untuk tidak memilih.. tapi pak, kayaknya free will itu ada deh...kamu aja sekarang lagi ngejalanin free will kamu..memilih, untuk meneruskan hidup dan bermain dalam simulasi kebahagiaan.. iya kan? jadi kalo saya bilang "there is free will" ...suda ada sejak kamu ets, kitah dilahirkan...karena gitu keluar dari perut emak,kamu suda memilih untuk bernafas... tapi seringnya free will itu ndak muncul ke permukaan..huahuahua :P (apasi!! ini komennya ndak penting! sori lho pak..!) | ||
| dv September 23, 2004 05:23 PM PDT kamu can registrasi?? heuheuheuhuehe | ||
| ikez September 24, 2004 02:29 AM PDT vote for love.. :P | ||
| dita September 25, 2004 10:30 AM PDT masih h.i. 2x juga neh postingannye | ||
| mput September 25, 2004 12:44 PM PDT anjirrr... beda lah yg anak HI postingannya klo dah ttg politik beginih... gw mah dasarnya kaga demen politik jd kaga ngarti teori begituwan... ampe duluw wkt kls 3 sma dpt pelajaran tata negara, nilainya hampir slalu merah di raport... huahuahuahuahua... too many theories and i hate it!! :p lieur | ||
| Leave a Comment: |