dodi. jakarta. jurnalis. kopi dengan krim. teh. rokok. rindu bandung. baca. melamun. nulis dikit. jalan-jalan sendirian.
Senangnya bisa ngasi judul yang rada panjang! Karena blog ini sudah mulai melenceng dari titelnya (yaitu: Cerita Sembarangan!), maka tulisan kali ini mencoba mengembalikan semangat yang sudah mulai pudar, yaitu semangat untuk bercerita, dalam cara yang sembarangan.
Dalam hari-hari sepanjang hidup, kita telah mendengar atau membaca beberapa perkataan, pendapat, atau pepatah yang populer. Kepopulerannya mungkin disebabkan ia diucapkan oleh orang terkenal, atau sebaliknya: kata-kata tersebutlah mempopulerkan sang orang (sang orang? istilah macam apa ini?). Ada juga perkataan yang populer, namun kita tidak tahu siapa gerangan yang pertama kali mengumandangkannya. Kumandang? Azan, kaliiii..
Garing, anjis.
Diantara perkataan tersebut adalah, in whichever-pops-in-my-head-first order:
1. Malu Bertanya Sesat Di Jalan
Ternyata bertanya pun engga bisa asal nanya. Kalo kamu nanya pada orang yang salah, bisa-bisa malah benar-benar tersesat. Atau lebih parah lagi, disesatkan. Lebih parah lagi kalau bertanya pada orang tersesat yang tidak merasa tersesat. Hari-hari gini, nanya mesti agak-agak pake feeling. Salah-salah bisa digarong atau diperes.
2. Bagai Pungguk Merindukan Bulan
Seinget saya, pertama kali baca pepatah ini pas SD, di buku pelajaran bahasa indonesia. Di halaman sekitar (bukan sekitar rumah, tentunya. Halaman buku!) ada gambar burung hantu sedang menatap bulan.
Ada yang nanya, "Bu, pungguk itu apa?" Jawab Bu Guru, "Sejenis burung hantu." Begitulah kira-kira dialognya.
Yang jadi pertanyaan, apakah ketika seekor pungguk menatap bulan, ia sedang merindukan bulan? Atau apakah ketika bulan engga muncul, si pungguk Yth merasa kangen? Hmm, mungkin si pencetus pepatah ini memang bisa berkomunikasi baik dengan pungguk. Mustahil? Eh, nabi Sulaiman juga bisa berbicara dengan binatang, lho!
3. Jangan Tanya Apa Yang Negara Telah Lakukan Untukmu, Tapi Tanyalah Apa Yang Telah Kau Lakukan Untuk Negaramu
Ada yang bilang bahwa "Sebuah teks haruslah dilihat pula konteks permasalahan dan waktunya."
Coba bayangkan, ketika ada sekelompok massa sedang mendemo kebijakan pemerintah menaikkan 75% harga BBM, dan suasana sedang panas-panasnya. Tiba-tiba muncullah sang Menteri Energi Dan Sekitarnya di depan massa, menenteng sebuah megaphone. Ia berteriak lantang, "Jangan tanya apa yang negara.. (dst) !!!".
Situasi mungkin akan tambah panas. Mungkin ada beberapa benda yang melayang, mematuhi hukum gravitasi dan hukum pergerakan benda di udara.
4. Jauh Bau Bunga, Dekat Bau Tahi
Pepatah ini, menurut Bu Guru, menggambarkan hubungan antara dua orang (boleh lebih, kayanya) yang ketika terpaut jarak, justru berada dalam kondisi baik. Ketika mereka dekat, hubungan malah memburuk.
Tapi pepatah ini mengandung generalisasi yang cukup sembarangan, dalam artian menyingkirkan fakta bahwa bau bunga tidak selalu enak, dan bau tahi tidak selalu tidak enak. Saya ingat, ada sejenis bunga yang baunya benar-benar tidak enak. Dulu kami menyebutnya "bunga tahi ayam", karena aromanya, oh baby, sungguh-sungguh identik dengan tahi ayam. Contoh lain, ya bunga bangkai. Dari jauh-jauh juga udah engga enak baunya. Apalagi dari deket!
Bau tahi tidak selalu tidak enak? Hm, agak melawan perasaan juga nih, pas ngetiknya. Tapi tahi nyamuk, emang gimana? Hihi. Terus tahi kering, misalnya. Yakinlah bahwa disekitar tahi kering tidak tercium aroma tidak enak! Eh, apa iya?
5. Air Di Atap, Jatuhnya Ke Pelimbahan Juga
Bener gak sih pepatahnya? Tapi kalo pun salah, pepatahnya engga jauh-jauh kok bunyinya.
Pepatah ini mengamati fenomena dengan memberi batasan waktu. Batas awalnya adalah, "air di atap". Batas akhirnya, "air jatuh ke pelimbahan", sehingga seolah-olah air yang di atas pasti akan jatuh ke pelimbahan, dan kemudian stop di situ.
Padahal, bila dilihat dalam lingkup yang lebih besar, air yang di pelimbahan pun akan menguap (atau mengalir ke sungai kemudian laut), membentuk awan, dan ketika awan telah jenuh, turun kembali sebagai hujan, dan diantaranya bisa saja ada yang menclok kembali di atap.
Namanya siklus air. Happy ending atau sad ending, tergantung bagaimana kita melihat di mana endingnya.
6. Mencintai Tak Harus Memiliki
Kata beberapa teman (dalam redaksi yang berbeda, tentunya), pepatah ini adalah bullshit. Ada pula yang bilang ini adalah perkataan menghibur diri ketika yang dicintai tak bisa dimiliki.
Yaah, ada benarnya juga. Cinta yang sama sekali bersih dari unsur posesifitas (ada ga sih, istilah ini?) sepertinya tidak manusiawi, deh. Tapi memang, tentunya, sudah menjadi ketentuan (atau hukum alam, bagi yang kurang suka dengan istilah "ketentuan") bahwa tak ada yang abadi. Sesuatu yang dimiliki, pada akhirnya akan meninggalkan kita, atau ditinggalkan oleh kita.
7. Anjing Menggonggong, Kafilah Tetap Berlalu
Sepertinya pepatah ini muncul ketika dalam perbendaharaan kata sehari-hari belum muncul istilah cuek.
Sehingga sekarang tidak perlu ada dialog seperti:
"Hei! Semua orang mengecam tindakan kamu membuang buku berjudul Di Bawah Sepatu Lars itu!"
"Ah, saya mah anjing menggonggong kafilah berlalu aja."
Ia bisa memakai kalimat, "Ah saya mah cuek aja."
Sepatutnyalah kita semua berterimakasih pada inventor istilah cuek.
8. Banyak Anak Banyak Rezeki
Pemerintah Orde Baru, dengan program KB-nya, bersusah payah menghapus prinsip ini, karena kontraproduktif dengan upaya pemerintah mengurangi tingkat pertumbuhan penduduk.
Padahal, yang perlu direvisi adalah pemahaman masyarakat akan "rezeki" itu sendiri. Seolah-olah rezeki itu hanyalah kekayaan belaka. Padahal dalam bahasa aslinya (arab), rezeki merujuk pada segala nikmat yang diperoleh manusia. Penglihatan, pendengaran, kemampuan bernafas, kemampuan berpikir, berbicara, senyuman, cinta, semuanya juga rezeki!
Kalau menggunakan pengertian rezeki yang terakhir ini, maka benarlah bahwa banyak anak tentunya banyak rezeki. 8 anak berarti 8 penglihatan. Bandingkan dengan 2 anak!
9. Cepek Dulu Dong
Bagi kamu yang projadul (produk jaman dulu), mungkin pernah akrab dengan istilah ini. Di kala tontonan masih TVRI belaka (Belaka = Doang), tersebutlah sebuah tontonan anak-anak berjudul Si Unyil. Di dalamnya ada tokoh bernama Pak Ogah, yang bila dimintai tolong (atau dalam kesempatan baik manapun) pasti akan ngomong, "Cepek dulu, dooong!"
Nama "Ogah" itu pun sepertinya berasal dari ke-ogah-annya melakukan sesuatu bila belum diberi cepek (seratus rupiah). Perlu diingat bahwa selain anak kecil, remaja-remaja jadul (jaman dulu! argh!) dan orangtua sering ikut menonton Si Unyil ini, walaupun belum ada tulisan BO (Bimbingan Orangtua = PG) di sudut kanan/kiri atas/bawah teve.
Ungkapan tersebut mungkin adalah sindiran bagi birokrasi kita yang suka engga mau gerak kalau belum distimulan oleh sesuatu yang dikenal dengan istilah "pelicin".
Atau mungkin sebaliknya. Setiap minggu menonton Si Unyil, di bawah sadar para penonton kemudian tertanam 'ideologi' cepek-dulu-dong-isme, yang ketika mereka dewasa dipraktekkan di dalam bidang pekerjaan manapun yang dijalani. Mereka, yang dulu dengan tawa-tawa lucu dan imutnya menonton aksi Pak Ogah, sekarang telah berada dalam struktur birokrasi. Dan seiring inflasi, tentunya sekedar cepek engga bakal menggerakkan mereka.
***
Benar-benar cerita sembarangan.
| Galih December 1, 2004 12:12 PM PST bagaimana dengan Buruk Muka Cermin Dibelah? apa iya kalo muka udah default fabrique begitu dari sananya, lantas kita bisa nyalahin cermin? kasihan banget kalo gitu nasib cermin ya? diperangi oleh orang2 yg ngerasa dirinya jelek! hehe! | ||
| dv December 1, 2004 12:27 PM PST "semut di seberang terlihat, gajah di pelupuk mata tidak terlihat" --> gajah di pelupuk mata?? set dah (ikut ikuta aja lo dep, ga lucu tau!!) | ||
| LiN December 1, 2004 02:56 PM PST baca "cepek dulu dong!" kadang2 mikir kapan ya indonesia bebas dari pak ogah-pak ogah ? | ||
| arb3i December 1, 2004 04:50 PM PST lagi random-moods kah? hihihi... cerita sembarang tapi tetep asik2 aja koq utk diposting ;) | ||
| duoHOSTING.net December 1, 2004 09:22 PM PST . | ||
| siwoer December 2, 2004 08:32 AM PST Ada cangkul di tengah sawah....pak taninya klupaan bawa pulang dod :P | ||
| nero December 2, 2004 10:33 AM PST ooo, pungguk itu burung hantu toh?? selama ini gw kira pungguk = bungkuk (jelas2 beda..), jadi kalo inget pepatah itu gw jadi terbayang si quasimodo, the hunchback of notre dame sedang menatap bulan... thx buat membenarkan kebodohan gw selama 16 tahun ini dod!! | ||
| bLub December 2, 2004 05:27 PM PST dod... lo lagi2 bikin gue mikir. wlo tidak sesusah dua postingan sebelumnya. Makan lengkuas aja ceritanya susah bener :D anyway... setau gue pungguk itu bukan burung hantu. Itu kan dongeng melayu... nama sebuah tokoh... masak lo ga tau sih | ||
| bLub December 2, 2004 05:30 PM PST dod... lo lagi2 bikin gue mikir. wlo tidak sesusah dua postingan sebelumnya. Makan lengkuas aja ceritanya susah bener :D anyway... setau gue pungguk itu bukan burung hantu. Itu kan dongeng melayu... nama sebuah tokoh... masak lo ga tau sih | ||
| antigravity December 2, 2004 10:41 PM PST blub: de, ke http://nlp.aia.bppt.go.id/kebi/ deh. "search word", masukin "pungguk". yang keluar: 1. a kind of owl. 2. tailless. (heheheh. puasssss guehhehehehehe) nero: benar! walau blub menggugat, tapi gw punya bukti kuat! siwoer: jangan ngarang2 pepatah sendiri, deh. hihihi. duoHostingNet: bot! siwalan. arb3i: random-moods? yeah, kinda, lah, Shen. Lin: akan bebas ketika Pak Ableh telah berhenti berkeliaran juga. dv: EH! iya tuh! wah saya engga terpikir. heuehieuhei. bagus2, nak devi. Galih: LOL! HAUHUAUHAHUAU. dasar Galih Gilah! | ||
| hb jassin December 3, 2004 04:10 AM PST nak dodi, kebetulan bapak sedang mencari asisten untuk kamus peribahasa terbaru. hubungi pak jaya suprana terlebih dahulu. oh ya, alamat pos-el kamu apa? | ||
| cta December 3, 2004 07:27 PM PST uhuhuhu..meskipun saya dulu selalu dapat 9 untuk mata pelajaran bahasa indonesia..tapi..no comment aja deh.. huehue.. cintailah produk dalam negri.. | ||
| Ikez December 5, 2004 04:37 PM PST Malu Bertanya Ga Dapet duit... Ga dapet kasih sayang, ga dapet makan gratis.... huhu.. | ||
| achill December 6, 2004 01:55 PM PST Dod... Sejak kapan lo jadi guru Ahli pribahasa uhuhu... cinta produk dalam negeri juga ternyata hehehe ;p | ||
| achill December 6, 2004 02:00 PM PST Wayaaaahhh.... sejak kapan lo jadi Ahli pribahasa Dod?!!! baguss... baguss.. cinta produk dalam negeri nech hehehe :p | ||
| sa December 6, 2004 08:55 PM PST dod, yg nomer 4. emang beneran ada ?ini di sekolahan tahun berapa ya.. hehe.. saya ketinggalan nih. | ||
| antigravity December 7, 2004 02:16 AM PST sa: ada, mba, ada. achill: engga jadi guru kok. jadi blogger ajah. huhuhu. ikez: ck ck ck. segitunyakah? tolong pahami lagi makna pepatah tersebut, ya. ihhihi. cta: no comment? no comment apa ga baca, nih? hwehwehweh. hb jassin: wah terimakasih sekali bapak bersedia mengunjungi blog saya. account friendster bapak ada, ga? | ||
| dondhy December 16, 2004 11:46 PM PST well..lots of people sez..practise makes perfect,,meanwhile we're also familiar with 'nobody's perfect' so..why practise?!! | ||
| Namekiju March 8, 2005 08:52 PM PST bodoh | ||
| Leave a Comment: |