dodi. jakarta. jurnalis. kopi dengan krim. teh. rokok. rindu bandung. baca. melamun. nulis dikit. jalan-jalan sendirian.
"SUNGKRUNDUP!"
Demikian kira-kira bunyi yang timbul ketika ia tiba-tiba saja muncul di hadapan kami. Muncul entah dari mana, yang pasti bukan dari kehampaan karena tidak mungkin sesuatu muncul dari kehampaan: tidak pernah ada yang namanya ketiadaaan. Atau bila memang semua berawal dari ketiadaan, maka sesungguhnya semua ini juga tiada. Apakah "ada" merupakan ilusi belaka, ketika ketiadaan telah bosan dengan dirinya, maka ia pun berilusi seolah-olah semua ini ada?
Ah paradoks, berputar-putar dan tidak penting.
Ya, intinya ia tiba-tiba saja ada di situ. Bagaimana ia bisa ada disitu kami tidak tahu! Mungkin ia menyihir dirinya dengan mantra Apparatus (hei, kamu baca Harry Potter, tidak?), atau mungkin ia memberhentikan waktu dan menjalankannya kembali ketika ia berada tepat di depan kami, atau bisa jadi ia mampu mengubah frekuensi getaran tubuhnya hingga ke taraf atomik, dan membaliknya kembali ketika ia di depan kami sehingga terlihat. Manapun caranya, semua sama ajaibnya.
"Perkenalkan. Nama saya Lotob."
Lotob? Orang ini pasti hanya mengarang-ngarang. Membaca 'botol' dari belakang, dan mengakuinya sebagai nama.
"Ah! Bukan! Nama saya memang Lotob. Saya berasal dari Ipok Usus. Sulit dipercaya memang, tapi asal tahu saja, teman saya ada yang bernama Utnip dan Soak Ikak, lho."
Seakan ia bisa membaca, atau mungkin menebak, pikiranku (pikiran kami, aku yakin). Nama-nama itu seperti membalik 'kopi susu', 'pintu' dan 'kaos kaki' saja. Tapi, kalau sebuah keanehan besar disusul keanehan kecil, mengapa aku mesti bingung? Aku manggut-manggut saja.
Jadi begini, sebelumnya aku dan temanku, Kosmos Batutulis, sedang terlibat dalam sebuah pembicaraan super bahkan hiper-membingungkan tentang bagaimana caranya menghadapi perubahan dalam hidup, sementara perubahan itu adalah pasti, tapi hasrat manusia adalah menginginkan status quo dimana segala sesuatu tetap nyaman dan aman.
Pembicaraan tersebut mengalami kebuntuan karena kami berdua sama-sama terpikat oleh hasrat anti-perubahan. Kami ingin semuanya tetap seperti sekarang, dan kami telah melakukan banyak hal untuk mempertahankannya. Kami bersama-sama telah menyingkirkan hal-hal potensial membawa perubahan, juga orang-orang yang mengusungnya. Beberapa diantara mereka cukup beruntung untuk sekedar pergi dari kehidupan kami. Beberapa yang keras kepala terpaksa kami makamkan seadanya atau ditinggal di rel kereta api.
Semua demi status-quo, demi kenyamanan bersama, demi surga-surga kami yang subyektif. Toh obyektifitas adalah kebohongan mahabesar. Wajar bila ada yang harus dikorbankan.
Tapi belakangan ini kami mulai tak kuasa menahan laju perubahan. Penyingkiran hal-hal dan orang-orang yang kami lakukan justru membawa efek domino yang sulit diperkirakan. Ia memicu munculnya hal-hal dan orang-orang lain yang membawa semangat perubahan yang lebih teragenda. Aktivitas mereka mulai membahayakan pewujudan surga kami.
Maka kami pun bertemu di rumah kosong ini untuk membahas agenda dan counter-agenda kami selanjutnya. Kami nyaris putus asa karena pembicaraan hanya berputar-putar. Dalam kebuntuan itu, Kosmos mengeluarkan benda pusaka warisan leluhurnya, Tongkat Ajaib. Menurut cerita turun-temurun, bila tongkat besi yang dekil itu digigit kedua ujungnya, maka akan muncul sesuatu. Tapi tongkat itu tak boleh digigit ketika situasi sedang tidak gawat. Yang melanggarnya akan dikutuk menjadi bijih besi murni. Menurutku, legenda itu hanya dikarang oleh tetua-tetua kampungnya untuk menjelaskan mengapa di tanah mereka terdapat kandungan besi yang kini ditambang oleh konsorsium asing, setelah berhasil menyingkirkan penduduk setempat.
Tapi hari ini aku tidak punya pilihan selain menuruti anjuran legenda tadi. Dalam kebuntuan, cara apapun layak dicoba. Termasuk cara tolol itu. Menurut legenda, tongkat harus digigit dalam keadaan pikiran tenang. Maka kami pun menenangkan diri sebelumnya. Cukup sulit, mengetahui kegiatan selanjutnya adalah menggigiti batang besi. Kami pun masing-masing menggigit kedua ujung Tongkat Ajaib.
Dan muncullah si Lotob itu.
"Ha! Saya tahu kalian dilanda kebingungan. Walau saya tak tahu masalah apa yang kalian hadapi."
Kosmos baru membuka mulut ketika Lotob memotong, "Jangan katakan! Saya tidak perlu tahu, kok." Ia kemudian mengeluarkan sebuah buku tebal yang tampak lusuh dan tua dari kantong jubah panjangnya. Ia kemudian bergumam-gumam sambil menghitung dengan jari-jarinya. "Menurut tuntunan Primbon-Minora Ketujuh, saran bagi kalian ada di halaman 3848 baris 22 hingga 29."
Ia membalik-balik halaman buku itu, dan kemudian tampak membaca dalam hati. "Hmm, begitu rupanya. Saya artikan langsung sajalah, ya."
"Berdasar Intuisi-Tertuntun saya dalam menerjemahkan ayat-ayat Primbon-Majora, maka saran bagi kalian adalah sebagai berikut:
perubahan adalah niscaya
satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri
maka bangkitlah, tinggalkan keyakinan usang
dan bergabunglah bersama perubahan
beradaptasilah, bagai batang bambu di tengah tiupan badai
ia tidak berkeras seperti pohon beringin raksasa
badai usai beringin tumbang, tapi pangkal bambu tetap tertanam
karena pucuk dan batangnya bergoyang mengikuti angin
sesekali boleh menoleh ke belakang untuk bercermin
tapi jangan terlena, karena bukan kenangan yang harus hidup
tapi kalianlah yang harus hidup!
beradaptasilah, bahkan kera dan jerapah melakukannya
mengapa bersikeras?
sebelum ikut mengendalikan perubahan
kalian pertama-tama harus beradaptasi dengannya!
Demikian saran yang bisa saya jabarkan."
Kami pun termangu setengah ternganga. Butuh waktu untuk menyerap makna saran tadi. "Oh jadi begitu rupanya. Saran yang hebat.", lirih Kosmos memecah keheningan.
Keadaan kembali hening karena kami mencoba mengulang saran tersebut dalam hati, mencoba meresapinya.
"Ehem!", Lotob berdehem. "Mm, meresapinya bisa kapan pun kok. Tapi saya harus pulang, nih."
"Lho, memang...?", tanya Kosmos. Gantung.
"Untuk memulangkan saya, kalian harus kembali menggigit kedua ujung Tongkat Ajaib."
"Hah? Begitu rupanya." Kami pun dengan sukarela menggigit Tongkat Ajaib, menunggu Lotob menghilang dari depan kami. "Hihi. Kalian tampak bodoh."
"DUPKRUNSUNG!" Demikian kira-kira bunyi yang timbul mengiringi hilangnya Lotob. "Avhuh!", Kosmos mengaduh tak jelas setelah sebuah bunyi 'krak' bersama patahnya satu gigi depan. Tongkat Ajaib jatuh, hampir saja gigiku juga patah menahan beban tongkat. Untungnya aku segera beradaptasi terhadap perubahan itu. Refleks sih, aku membuka mulut membiarkan si tongkat mematuhi hukum gravitasi.
"Padahal Tongkat Ajaib itu keras minta ampun. Kenapa juga aku menggigitnya keras? Benar rupanya. Kita harus beradaptasi!", ujar Kosmos yang tampak berwibawa dengan hilangnya setengah dari gigi depan atas kanannya.
Betul! O ya, hampir lupa. Namaku Solmi Fasolsido Sidomifa Solsolsol.
| Name January 9, 2005 09:51 PM PST <i>Semua demi status-quo, demi kenyamanan bersama, demi surga-surga kami yang subyektif. Toh obyektifitas adalah kebohongan mahabesar. Wajar bila ada yang harus dikorbankan.</i> wah, jangan pesimistik gitu donk dod.. si lotob aja bisa mengubah frekuensi tubuh sampe getaran atomik, mungkin kita bisa merubah tubuh kita sampe taraf getaran kosmik.. gw yakin, pasti kita ga bakal terlalu menghadapi masalah-masalah dunia ini, rintangan yang membenturkan otak dengan perisai ilusinatif berbentuk molekul padat di dimensi entah keberapa.. aduh, rasanya kesadaran non-lokal gw mulai bekerja lagi.. iya, itu, komunikasi khayalan-khayalan berdasarkan getaran kosmik ;) | ||
| hujan matahari January 9, 2005 11:53 PM PST walah walah.. si bapak satu ini emang ga pernah mati gaya deh kalo dah nulis. baca ini, jadi ngingetin gw ama dunia sophie. coba lu kembangin jadi buku, dod! -serius- | ||
| dv January 11, 2005 09:41 AM PST hei, solmi!!! lu siapanya paman kikuk?? atau siapanya asta?? hehe..... jangan-jangan kamu udah kena sihirnya nirmala!! -juwita- | ||
| uyet January 11, 2005 11:32 AM PST hmm.. jadi pohon beringin raksasa, atau menjadi sebilah bambu? Dua pilihan yang kasat mata, tapi masih ada pilihan lain... yang tak kasat mata... Jadilah Sebuah Pohon beringin raksasa yang segemulai bilah bambu... Menjadi opportunis adalah juga sebuah pilihan bukan? *wink* | ||
| yusie January 11, 2005 02:32 PM PST pendongeng yg hebat...ntar lagi kayanya bakalan ada lagi blogger yg publish buku...hmmm... | ||
| an January 11, 2005 04:10 PM PST wah, saya jadi teringat Apollonius dod. apakah kita harus percaya kepada org yg membuat Julia menangis? mungkin posisi kita seperti Cato, hanya bisa bimbang saja di senat. pdhal, keponakannya itulah yg memporakporandakan segala : Brutus. bahkan Julius Caesar pun terserang ayan. mungkin lebih baik besinya diberikan kepadanya. agar lidah tak tergigit. | ||
| bocah January 11, 2005 11:40 PM PST waduh nongol lagi si om ini..kemane aje om dah lama kaga kelihatan...bagus n keren gini euy ceritanya..dalem banget...:D:P | ||
| lika January 12, 2005 11:24 AM PST wut da hell is dat? kamu siapanya remisilado? | ||
| crey January 12, 2005 11:21 PM PST *geleng2* | ||
| tuteh January 13, 2005 12:22 PM PST mo baca duluw :p *kasih koment first :P* | ||
| kuda January 13, 2005 01:40 PM PST yea, the burden of the planet earth: gravity, hipocrisy, and being 3d. bener juga kata putra, rules are ment to be broken ya ndak tho? | ||
| cta January 13, 2005 06:37 PM PST hmm.. ck..ck..ck.. | ||
| blub January 13, 2005 07:15 PM PST lieur dod.... | ||
| cta January 14, 2005 09:09 AM PST baca kok..berkali-kali malah..tapi karna kapasitas otak cta yang cuma bisa ngerti komik doraemon ato kariage kun,,jadi rada membutuhkan waktu lebih banyakkkkk dp orang" lain..itupun akhirnya ga ngerti juga.huhu.. tau ga??memorinya lgs berputar" diseputar buku misteri soliter yang koneng ituh.. huhu.. kenapa yah? kenapa jerapah lehernya panjang??kalo kata lagu anak "Dongeng Jerapah" karna dia makan sayur kacang panjang!!akhirnya, krn lehernya jadi panjang dan sanggup mengambil buah dipohon tinggi sesuai kontes sang raja,dia memenangkan kontes tsb dan mendapat jubah yg dia pake sampe skr..udamah lehernya jadi panjang!kalo kata darwin,jerapah leher pjg lebih adaptif dp jerapah leher pendek,jadi dia sanggup bertahan sampe skr,populasinya ga punah.Hmm..dunia mmg terlalu banyak menuntut!itu pasti! perubahan itu memang selalu ada,,kadang untuk menang kita harus berubah,,dikit juga gapapa..toh, ga ada yg mutlak salah didunia ini, ga ada yg ga mungkin kecuali "Tiada Tuhan selain allah" kalo kata pak ustadz..hihi people do change, dod!!hehe.. panjang sekali bukan?? puwas kamuh??hihi.. oh ya,ada ringtone do-mi-sol loh di hp eike.. ada hubungannya ga ??hueheuheu.. | ||
| sambalado January 14, 2005 12:21 PM PST Kalau ada dua pihak yang harus menyepakati sesuatu, dengan keadaan berarti salah satu yang harus mengalah untuk perubahan.. wah suseh juga. Siapa yang tahu perubahan mana yang sebenarnya lebih baik. .??? | ||
| rur January 18, 2005 10:36 AM PST dod, bagus banget... gue suka banget cara lo ngedeskripsiin semuanya, and your choice of words, not to mention perumpamaan2 lo yang implisit tapi ngena | ||
| rara February 18, 2005 06:37 AM PST Bagus.. bagus... *ngikutin gayanya pak Tino Sidin kalo menilai karya gambar* hehehe.. Tapi beneran kok.. bagus :) | ||
| Leave a Comment: |