dodi. jakarta. jurnalis. kopi dengan krim. teh. rokok. rindu bandung. baca. melamun. nulis dikit. jalan-jalan sendirian.
Duduk di atas tempat tidur, ia menutup zipper tas tangannya. Kali ini tas tangannya berbahan kulit, berwarna hitam, dengan logo LV.
Sip, semua beres. Dengan langkah ringan, ia menjinjing tas itu keluar kamar. Di meja makan, sarapan favorit yang ia siapkan sebelumnya telah menunggu. Lima sendok makan nasi, brownies kukus yang dicubiti, dan sedikit saos kecap.
Lika Aditia, nama gadis itu, meletakkan tasnya di atas meja. Kursi ditarik dan ia duduk, mengambil irisan jeruk nipis dan memerasnya di atas brownies. Ia merasakan otot-otot di belakang rahangnya mengeras, mengeluarkan air liur.
Sepuluh menit kemudian, piring itu bersih. Lika meminum jus apelnya, dan menenggak multivitamin. Diliriknya jam dinding. Pukul 11 pagi. "Saatnya untuk beraksi, sayang," ujarnya, seolah berbicara pada tas tangan hitam di atas meja.
Sedetik kemudian, seolah menunggu anggukan si tas, Lika beranjak. Pegangan tas ia masukkan ke lengan kiri, dan tas pun mantap terjepit. Dengan langkah pasti, ia berjalan menuju pintu, menguncinya dari luar. Ketukan hak sepatu 12 cm pun terdengar berirama di koridor apartemen lantai 18 itu.
Lika sendirian di lift. Ting, bel berbunyi di lantai 16. Seorang perempuan muda, dengan kemeja lengan pendek hitam bermotif garis membujur masuk, dan wangi CK One merebak. Dengan sudut mata, Lika melirik. Rok perempuan itu hitam bermotif polka dot. Ga matching, wangi pasaran pula, Lika membatin.
Di dalam lift yang terisi dua orang tak saling mengenal, waktu selalu merangkak lama.
***
Dua pasang mata menatap angka penanda lantai yang terus berkurang. Ting. Dua napas lega menghambur. Lika mendahului keluar, melewati petugas keamanan sambil tersenyum, dan menyambut hawa kota dan terik matahari setelah melewati pintu otomatis.
Sambil berjalan ke arah gerbang, mata Lika menjelajah. Sebuah taksi terparkir dengan mesin mati. Sopirnya berdiri, celingukan sambil memegang amplop berwarna hitam. Itu dia, pikir Lika.
"Amplop itu buat saya," katanya menghampiri. Sopir itu melihatnya dari atas ke bawah, kembali ke atas, berhenti agak di tengah, dan melirik sedikit ke kiri dan ke kanan. "Pak, amlopnya," kata Lika, agak keras.
Sopir tampak kaget sambil menyerahkan amplop. Ia kemudian membuka pintu belakang, dan menyalakan mesin mobil.
Di dalam taksi, Lika membaca isi surat ketikan entah berapa baris, isinya tentang undangan presentasi bisnis jaringan yang tak bernama. Tapi mata Lika langsung meloncat ke kata ketiga di baris 2, 8 dan 16, sebagaimana kesepakatan dengan si pemesan. Hotel - Daria - 1598.
"Hotel Daria, Pak," dan taksi melaju ke selatan kota, melewati jajaran gedung tinggi, melintasi pengemis jalanan, sedikit kemacetan, dan akhirnya di kawasan mewah nan rindang. Sudah dekat.
Memakan waktu empatpuluh menit hingga Lika berdiri di depan pintu bernomor 1598. Ia mengetuk. Tak berapa lama, muncul sepotong wajah yang segera tersenyum setelah melirik atas bawah persis si supir taksi tadi.
Pintu dibuka lebar, dan pria berkumis setengah baya itu mempersilakannya masuk. Suaranya menggelegar, "Wah, wah, bagus juga kamu. Hebat si Steven, ga percuma jadi ketua komisi!" Pria gemuk itu melangkah agak terseok ke arah kamar mandi. "Sebentar ya, gue minum obat dulu!"
Lika mendengar bunyi botol plastik yang tergesek butiran obat dari dalam kamar mandi. Ia melepas apitan tas tangan dan membuka zippernya.
Lika melangkah ke kamar mandi. Ditatapnya tubuh gemuk yang susah payah mengeluarkan sebutir kapsul obat kuat. Pistol berperedamnya tergenggam erat, dan kini diarahkan ke belakang kepala orang itu.
Di Hotel Daria, tak ada yang mendengar tiga tembakan teredam. Kecuali, tentunya, Lika dan anggota parlemen yang bahkan tak sempat menoleh ke belakang.
***
Malamnya, di apartemen, Lika khusyuk duduk di sofa membaca sebuah novel. Televisi menyala. Sayup, telinganya menangkap berita tentang tewasnya seorang anggota parlemen di sebuah hotel, dengan luka tembakan di kepala belakang, dan dua di tengkuk. Lika mendongak, menonton seorang kolega korban yang menyampaikan dukacita dengan mata memerah.
Di bagian bawah layar tertera nama Steven Soerjadi, Ketua Komisi C Parlemen. Lika segera melanjutkan membaca, acuh pada Steven, yang sekitar enam jam sebelumnya melunaskan harga Rp 333 juta ke rekening Lika.
Lika Aditia, adalah seorang penggemar novel sains.
| ShOFa July 12, 2005 11:59 AM PDT dpt dr mana dod crtnya??? serem amat siyh... tu cw pembunuh bayaran yah? | ||
| ciphie July 12, 2005 04:52 PM PDT OOT dod, di jkt kan..?? ketemuan yoks!! ajak kuda juga | ||
| jowie July 12, 2005 06:11 PM PDT siaran langsung pandangan mata? cerita pendek? cerita kriminal? hakhakhakhak.. keren jak! | ||
| deppii July 12, 2005 06:38 PM PDT ih..lika kok serem amat..huhu.. Lika aditia sapanya Lika aprilia? | ||
| lika July 12, 2005 06:44 PM PDT walah pembunuh bayaran.. tp saya ngecek rekening saya kok isinya msh segitu2 aja ya? =p ini kisah nyata off the record yg beneran terjadi, atau hanya salah satu karya imajinasimu nak? harusnya bukan Lika Aditya dong.. kan si Adit nama belakangnya Nugraha, jadi Lika Nugraha. atau Nyonya Aditia. hsushsushusus | ||
| pyro July 12, 2005 06:57 PM PDT waaah lutunaaaa... | ||
| sybond July 13, 2005 09:14 AM PDT hehehehehe... si Lika,,, humm.. salut kepada semua tulisan anda bung... | ||
| dv July 13, 2005 06:35 PM PDT ko brownies pak jeruk nipis sih? ko minum multivitamin pake jus apel sih? kan ga boleh.. | ||
| an July 14, 2005 10:04 AM PDT mulai sekarang gue waspada terhadap wanita bertas tangan LV. tapi kenapa gak lo alihin ke stilettonya aja sih? kan lebih bikin pusing... dan seru. :) | ||
| kuda July 15, 2005 09:05 AM PDT masi sempet nulis dod? kewl berat jo *gaya anak gaul* iya, gue baru mo protes, harusnya ya lika nugraha dong. masa nanti mariana renata jadi mariana renata mohammed. ya nggak lucu dod. btw, tempo dari jam 1-5 pagi ditutup aja dod, kan demi penghematan. inpres sampah! | ||
| Galih July 15, 2005 06:58 PM PDT Aditya Recodianty Silveria? Ya, hanya dia seorang yang melumpuhkan hati gue! Menusuk sampai ke dalam jantung! Dia tidak dibayar! Dia melakukannya untuk orang lain! Aditya Recodianty Silveria, Natural Heart Killer! Fcuk Sugiarto! | ||
| cta July 15, 2005 07:32 PM PDT bab I novel kita inih?huhuhu saya menggunakan "merangkak" sebagaqi majas personifikasi waktu.. ck ck ck.. as market as CK one.. (pasaran maksud..huhu) | ||
| bLub July 16, 2005 01:21 PM PDT lain kali bikin tokoh dgn nama qudsy ya, dah gitu dia ga memakai LV krn terlalu mahal dan "tua", dia lebih suka memakai 'mango'.... trus dah gt si qudsy ini ga suka makan nasi 5 sendok... mana kenyang. okeeee??? hiohio btw,da sembuh?? i don't mind kok kissing sama yg sakit flu huehuehue. kok gw smingguan d jkt gada anak bbv yg vs diajakin ktemun sih | ||
| b3akiNs July 17, 2005 04:44 PM PDT huahahaha terinspirasi oleh Mrs.Smith yaaaaa... ;) Lika jaat abisss gilee...gw juga mau donk duit segitu... | ||
| imey July 17, 2005 06:59 PM PDT huh... gw kirain beneran ttg novel sains... ga tau nya ngurusin tembak2.. tapi bagus banget Om... sUmpeh deh :D:D ga boSen main kesini | ||
| ichanx July 17, 2005 07:25 PM PDT setau saya namanya lika aprilia dan aditya nugraha... hmm... perpaduan yang bagus | ||
| tamie July 17, 2005 09:12 PM PDT the way you describe her and her thoughts is really nice..but the story is rather common,kaya pernah baca semacam ini huehehe.. | ||
| rara July 17, 2005 09:22 PM PDT weh kirain beneran... ternyata cerpen hihihi :D tapi keren keren :) | ||
| pit August 7, 2005 07:57 AM PDT cerita yang aneh... tapi keren! sapi! sumpah! keren pisan! *eh, misuh disini gak papa kan?* | ||
| Rocking Horse September 1, 2005 06:08 PM PDT Horse Game | ||
| Leave a Comment: |