dodi. jakarta. jurnalis. kopi dengan krim. teh. rokok. rindu bandung. baca. melamun. nulis dikit. jalan-jalan sendirian.
Di ruang kerja besar yang dipenuhi nuansa coklat muda, dengan perabot dari kayu yang mahal, berkarpet tebal serta pendingin ruangan yang diset ke 25 derajat Celcius sejak presiden mengeluarkan instruksi hemat energi, Harianto Soenjoto tertunduk lesu. Tak ada hubungan dengan mendung yang menggelayut di tengah siang itu. Ia masih menggenggam telepon selulernya.
Ingatannya melayang ke hari sebelumnya, di ruangan yang sama. Ia kedatangan dua orang tamu. Sebentar, memang. Hanya lima menit. Mereka berbicara tentang para calon tersangka penyelewengan dana negara di Perusahaan Energi Nasional. Tentu saja ia mengenal kedua orang itu. Seorang gadis pertengahan 20, yang didampingi redakturnya, seorang pria berusia kira-kira akhir 30. "Jangan tulis dari saya," pinta Harianto usai memberi bocoran siapa-siapa saja calon tersangka itu.
Pagi tadi, sambil menyetir mobil dari rumahnya di kompleks kejaksaan, Harianto merasakan dadanya berdegup cepat ketika melihat judul utama di sebuah koran. "Pak, koran Pak," si pedagang menawarkan di samping jendela mobilnya. Harianto, salah satu jaksa agung muda itu, menggeleng. Ia sudah tahu isi beritanya. Ia berharap semua akan baik-baik saja.
Tapi, beberapa menit yang lalu, telepon selulernya berdering. Nada deringnya menghentak. "Presiden." Tak sadar, Harianto berbisik lirih.
"Selamat siang, Pak."
"Siang, Pak Jaksa. Mohon tunggu sebentar," suara juru bicara presiden yang jarang ia dengar melalui telepon. Harianto mengucap terima kasih.
"Pak Harianto, apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, Pak Presiden. Bapak sendiri bagaimana?"
"Sebenarnya baik, tapi ada yang sedikit mengganggu."
Kemudian hening sebentar. Harianto menunggu.
"Tadi pagi saya membaca judul berita utama sebuah koran, tentang 18 tersangka di perusahaan energi. Pak Harianto, bisa dijelaskan bagaimana bisa ada berita seperti itu?"
"Baik, Pak. Seperti yang pernah Bapak katakan, kita harus terbuka dengan media. Pemberantasan korupsi harus transparan, agar rakyat mendukung dan merasa memiliki harapan. Saya rasa tidak ada masalah Pak. Mungkin..,"
"Pak Jaksa Agung Muda," Presiden memotong, "berita itu menyebutkan salah satu menteri bidang ekonomi akan menjadi tersangka. Walau tak disebutkan namanya, tapi saya rasa hanya sedikit pejabat Kejaksaan Agung yang mau membagi informasi itu."
Harianto sudah menebak ini. "Benar, Pak. Isi berita itu saya jamin tidak bertentangan dengan hasil penelusuran tim kami selama ini."
"Itu bagus. Tapi, Pak Harianto, saya butuh menteri-menteri saya. Mereka adalah orang-orang kompeten yang terpilih. Sampai pemilihan umum, saya tak mau mereka terhambat. Silakan lanjutkan dengan 17 calon tersangka lain. Hukum memang harus ditegakkan. Tapi saya juga harus membereskan perekonomian carut marut negeri ini."
Harianto diam. "Nah, Pak Jaksa Agung Muda, saya harus mengejar pesawat. Terima kasih atas waktu anda, selamat siang." Hubungan telepon diputus.
Beranjak, Harianto mematikan pendingin ruangan. Ia membuka sebuah jendela, dan melihat arus lalu lintas yang macet dari lantai tiga gedung itu. Ia menatap bungkusan cerutu mahal, oleh-oleh dari koleganya yang datang dari luar negeri dua bulan lalu.
Harianto tak lagi merokok sejak lima tahun lalu. Ia menghampiri meja tamu, dan mengangkat hiasan meja yang merangkap pemantik api. Asap cerutu pun mengebul. "Uhuk," ia terbatuk. Rasa cerutu itu asing.
Ia merasa mual. Mungkin karena cerutu.
| dv September 3, 2005 09:37 AM PDT hore pertama.. kamu ngomong apa sih dod? makanya kalo abis begadang semaleman pagi2nya jangan posting.. bkin pusing orang heuhuehue.. | ||
| Gie September 3, 2005 02:39 PM PDT dia diracunin kali ya..gara2 ngebeberin rahasia negara ke rakyat... eheheh just a thought :p | ||
| Yusie September 4, 2005 01:43 AM PDT Duuh..Idem ah ma dv..Gw jg ga ngartos! Btw,kmu mendeskripsikannya krg lengkap dod!Hehehe..Kmu lupa kasi tau..Alias yg itu di Episode ke brapa? | ||
| an September 4, 2005 02:51 AM PDT aduh dod... gue tadi nonton Roswell aja pusing, ditambah lagi ini... btw, lo gak pusing liat negara ini? gue mah liat scene indie aja pusing apalagi scene indonesia... :D | ||
| bLub September 4, 2005 11:34 PM PDT gw curiga ada arsenik di cerutunya..... ah dasar wartawan metro, mo sok2 nulis kisah politik, ujung2nya pembunuhan juga... kebanyakan ngeliput kriminal ga baik untuk postinganmu dod huihuihui tunggu postinganku ya bo | ||
| viga September 5, 2005 06:12 AM PDT kamana hungkul kasep ? | ||
| cta September 5, 2005 08:00 AM PDT kamu sadomasokis jangan-jangan.. huhuhu.. obsesi bikin novel pembunuhan nyaingin sheldon yak? gyaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... lama tak menuliiiiiiiissssssssssssssssss.......................................................................................................................................................................................................................... | ||
| Fannie September 5, 2005 12:21 PM PDT Duh....ceritanya itu lho, dalem amat hehehe.... | ||
| -inex- September 5, 2005 08:26 PM PDT hooo... saat harus memilih... hihihih :D... aelah... | ||
| pyro September 5, 2005 09:14 PM PDT hix hix hix... ceritanya sedih. | ||
| poetra September 6, 2005 05:53 AM PDT jadi, setelah dia merasa mual tadi, dia akhirnya melanjutkan investigasi dan tidak mengindahkan permintaan presiden? gitu? terus, ada kasus soal arsenik? gitu? well well.. *mendehem mafhum* | ||
| siwoer September 6, 2005 09:46 AM PDT dod mintain gw crutunya dong. mupeng nih :D | ||
| sa September 6, 2005 03:27 PM PDT katanya, klo merokok cerutu itu, harusnya di.. ituloh.. dipetis eh.. ko petis.. di ituh.. digunting dulu ujungnya. ga bisa lsg. makanya dia mual. :lol: | ||
| b3akiNs September 6, 2005 10:24 PM PDT duh tulisanmu berat sekali Pak Dodi, dasar wartawan :P uda deh comment saya salam aja utk Pak Presiden... hehehe | ||
| Galih September 7, 2005 12:22 PM PDT "Ia merasa mual. Mungkin karena cerutu." Harianto mual bukan karena cerutu! Harianto mual karena kebijakan si Presiden! Ah, lagi-lagi terdapat kata yang menggiring! Iya, cerutu tadi cuma fiksi! Bodohnya saya! | ||
| lika September 7, 2005 06:16 PM PDT eh.. kok banyak yg bilang endingnya pembunuhan sih? emang si bapak itu mati? cuman mual doang kan? belom tentu dibunuh atau diracun kan? duh.. anak muda jaman sekarang suka su'uzon. ah dod, kurang menarik soalnya nama tokohnya ga familiar. huhu kmu tuh klo posting yg beginian eikeu suka bingung bo, suka jadi berpikir yg bukan2 dan mengaitkan ke dunia nyata. jadilah sekarang saya berprasangka kepada bapak presiden yg terhormat, padahal entahlah cerita kamu ini fiksi atau cerutunya doang yg fiksi? | ||
| kuda September 7, 2005 08:52 PM PDT yaelah dod. sebut aja mari elka pangestu atau aburizal bakrie gitu. biar jelas. orang indonesia kan nggak suka implisitisme (term apa lagi ini!)--btw jadi gak mau liat Mary-Lou Malig? | ||
| modjo September 7, 2005 10:54 PM PDT ini kisah nyata engga sieh? salam kenal :) | ||
| maknyak September 8, 2005 02:39 AM PDT trus trus bijimana kelanjutannya dod. kamu ikutan keprihatinan munir ya dod. ayo ayo lanjutkan perjuangan mu nak. | ||
| poetra September 8, 2005 03:14 AM PDT jadi siapa dod? elka pangestu, ato abu rizal bakrie? ah, sudah.. reshuffle tim ekonomi!! reshuffle tim ekonomi!! *bawa spanduk gede di depan DPR* | ||
| ichanx September 9, 2005 09:47 PM PDT hmm... tulisan yang sangat berat... tapi makna yang tersirat di dalamnya sangat jelas, yaitu "si heriyanto biasa ngerokok gudang garam, makanya gak kuat asep cerutu" | ||
| andian September 11, 2005 01:49 PM PDT coba cek ada ga sianida di cerutunya :P | ||
| ikez September 12, 2005 09:20 AM PDT cerutunya bekas kecemplung minyak selundupan .. | ||
| ikez September 12, 2005 09:21 AM PDT cerutunya bekas kecemplung minyak selundupan... | ||
| Grace September 12, 2005 05:23 PM PDT GAK NGERTI | ||
| Leave a Comment: |