dodi. jakarta. jurnalis. kopi dengan krim. teh. rokok. rindu bandung. baca. melamun. nulis dikit. jalan-jalan sendirian.
Sang Gubernur duduk, sedikit lelah. Hadirin baru saja bertepuk tangan mendengar pidatonya. Tepuk tangan basa-basi. Apa pun isinya, mereka toh tetap akan menepukkan telapak tangan.
Dia baru memberi sambutan di sebuah acara. Pokoknya, sesuai jadwal yang disusun sekretarisnya, hari itu dia harus hadir di depan ratusan orang untuk memberi pidato, yang teksnya juga sudah disusunkan. Dia tak hanya membaca, tapi diberinya sedikit improvisasi. Bagian awal dan akhir pidato, Sang Gubernur mengabaikan teks yang dirasa terlalu formal.
Kini di meja di depannya, sebuah piring berisi kue-kue terletak. Di samping kanan piring, di atas taplak meja warna biru, ada segelas air kemasan. Sang Gubernur, haus setelah berpidato, menyambar air itu. Sedotan dia tusukkan dan dalam hitungan detik, air pun habis.
Setelah sedikit berbasa-basi dengan seorang kepala dinas dan seorang lagi, entah siapa, yang berbicara tentang pemilihan kepala daerah, Sang Gubernur pun beranjak. Bersama supirnya, dia berjalan menuju mobil dinas sambil melambaikan tangan ke hadirin. Dia berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaan beberapa wartawan.
"Kita langsung ke kantor saja," Sang Gubernur memerintah supir. Tapi mobil itu tak pernah mengantar Sang Gubernur ke sana.
Di tengah jalan itu, telepon genggam Sang Gubernur berbunyi. Dia menjawab dengan menyalakan pengeras suara. "Hei babi," kata si penelepon. Gubernur terperanjat. Siapa ini, dia bertanya. "Hei babi! Kau akan mati! Kau minum racun, goblok!"
Telepon terputus. Gubernur diam. Saat yang sama, dia mulai merasa pusing. Mual. Penglihatannya kabur, berkunang-kunang. "Belok ke rumah sakit!" kata dia pada supir. Supir yang panik memacu kendaraan ke rumah sakit.
Gubernur sempat dirawat di ruang khusus. Tapi dia tak mampu bertahan. Penyebab matinya, kata pihak rumah sakit, adalah serangan jantung.
Yang tak diketahui adalah, air kemasan yang diminum Sang Gubernur telah diracun. Seseorang menyuntikkan sesuatu dari atas penutup air kemasan, sebelum air itu disajikan di kursi Sang Gubernur di acara tadi.
Di Jakarta, kepala badan intelijen terhenyak menerima laporan itu. Pelakunya adalah sayap klandestin pergerakan anti-integrasi. Maka diluncurkanlah sebuah propaganda, tentang kebusukan seorang anggota parlemen.
Untungnya mereka punya stok yang banyak untuk isu seputar anggota dewan. Penyebab kematian Gubernur berhasil dibelokkan. Presiden secara pribadi menyatakan pujian pada kepala badan intelijen, dalam sebuah pertemuan empat mata.
Kini, seorang gubernur baru telah terpilih melalui proses pemilihan kepala daerah.
Hari yang panas di Jakarta. Langit cerah. Matahari bersinar dari arah atas kepala. Melayang di antara gedung jangkung adalah asap kendaraan bermotor. Efek rumah kaca memerangkap panas. Badan gerah, titik keringat menyusup melalui pori-pori kulit.
Dan di atas trotoar sentra bisnis Sudirman, kaki saya melangkah. Napas agak terengah. Dua gedung bersampingan menyambut. Mereka berdiri tegak. Saya pun berbelok ke kanan, menaiki tangga ke lantai satu. Ingat, lantai dasar adalah ground floor. G.
Saya mendorong pintu sebuah ruangan di lantai satu. Beberapa kepala menoleh. Hai, darimana. Kemaren kok engga kesini. Ya sapaan seperti itulah. Saya menjawab seperlunya.
Sebab saya haus. Maka satu gelas plastik saya cabut dari kemasannya. Dispenser mengucurkan air. Glek. Ah segarnya!
Tapi hal-hal yang terjadi di dalam kepala memang tak tertebak. Segar air dingin dari galon bertuliskan Aqua tiba-tiba menghablur. Ilang feeling lah, kira-kira.
Sebab teringat pada sebuah nama: Danone. Bumi, air, udara dan tetekbengek di sekitarnya adalah milik negara dan dipergunakan sebanyak-banyaknya untuk kemakmuran rakyat. Dan "sebanyak-banyaknya", apakah artinya? Persentase saham di perusahaan berembel Tbk. (maupun yang tidak)?
Ah. Pikiran kurang ajar. Saya keluar dari ruangan itu, menuju ruang istirahat: sebuah jamban modern. Berterimakasihlah pada modernisasi karena telah membuat tempat berak dan kencing menjadi nyaman, harum, lega dan dingin!
Saya mengucurkan air dari keran wastafel. Airnya sejuk. Segar. Tapi sekali lagi, pikiran memang kurang ajar.
Karena saya teringat dua buah nama: Thames dan Lyonaisse. Perusahaan air asal Inggris dan Perancis itu, bersama Perusahaan Air Minum, bekerjasama mengalirkan air ke rumah-rumah di Jakarta. Ketika orang-orang berkulit kuning langsat dan kecoklatan berteriak di jalan agar tarif air tak dinaikkan, orang-orang kulit putih itu juga berteriak, "Kami akan cabut investasi."
Begitulah, wajah sebuah negara. Wajah yang --ah menjemukan sekali istilah ini-- kapitalistik?
Dan di sekitar Blok Cepu, orang-orang itu bersujud syukur. Ada pula yang membotaki kepalanya.
Mereka juga minum air, tentu.
Bila bel berdering,
tanda memanggil.
Maka datanglah,
dan bukakan pintumu!