dodi. jakarta. jurnalis. kopi dengan krim. teh. rokok. rindu bandung. baca. melamun. nulis dikit. jalan-jalan sendirian.

Form kontak

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

Next Page
Previous Page

rss feed

Mana Penting, Mana Tidak
Tuesday, May 30, 2006

Apakah,
"masih seperti dulu,
tiap sudut menyapaku bersahabat.."?

Sabtu pagi lalu, lempeng-lempeng bumi di selatan Pantai Parangtritis --di bawah laut, tentu-- bergeser. Tak ada yang salah dengan itu. Lempeng bumi, sesuai garis hidupnya, selalu bergeser.

Tapi pergeseran itu menggetarkan Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya. Jutaan jiwa, yang telah mendiami bumi di atasnya entah berapa lama, juga terguncang, tertimpa reruntuhan. Ribuan tewas.

Dan, melalui televisi, kita kembali menyaksikan seberapa tanggap --sih-- pemerintah. DPR mempersilakan presiden menggunakan dana tanggap darurat; Tiap kepala keluarga dijatah Rp 1 juta per bulan; wakil presiden meminta dana sumbangan tak dikumpulkan di pinggir jalan, "Salurkan melalui lembaga-lembaga resmi," kata Kalla; dan lain-lain.

Ada pula berita-berita ENGGA PENTING mengenai presiden dan wakil presiden yang dituduh berebut pengaruh. Siapa yang nuduh? Atau fraksi tertentu yang meminta presiden tidak jualan citra di Yogya. ENGGA PENTING, NYING! Kalaupun nyatanya ada unsur-unsur politis dibalik "ketanggapan" unsur-unsur pemerintah sebagai pelayan publik, ya biarlah.

Karena itu tidak penting. Demi limaribuan nyawa yang hilang, politisasi itu benar-benar bukan hal yang perlu. Sedikit lebih perlu daripada politisasi tanggap-darurat, mungkin, adalah auditnya nanti.

Sekarang, bagi yang ingin menyalurkan bantuan, bisa melongok ke sini, ada daftar Dompet Peduli Yogya.

Atau di helpjogja.net, yang menyajikan informasi seputar gempa Yogyakarta, sekaligus informasi rekening bantuan, daftar korban, daftar posko dan lain-lain.


Oleh dodi, pada 12:09 am
(8)



Bayangkan
Thursday, May 04, 2006

peurihpanon
kredit: Indra Shalihin, detikCom

Puluhan ribu orang berkumpul di depan gedung wakil rakyat --yang mirip kurakura, juga beha-- di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Berderap. Bergemuruh. Lantang. Mendesak. Merangsek.

Berhadapan dengan mereka, pasukan polisi menghadang. Dengan tameng, pentungan, pistol di pinggang, juga penembak gas air mata. Mereka bersepatu lars (yang niscaya keras bila menempel paras). Metro-1 telah mengumandangkan perintah: demonstran yang anarkis, tembak di tempat! Untung tak kejadian.

Eh tapi kok saya jadi mengkhayal ya. Bagaimana bila di tengah demonstrasi buruh, petugas polisi tiba-tiba melepas helmnya, membuang tamengnya, pentungannya dan segala macam tetek-bengeknya. Kemudian bergabung dengan barisan buruh.

"Bosen, ah! Siap-perintah siap-perintah melulu! Saya juga mau gaji naik, komandan!"

"Iya nih, (koman)Dan! Saya capek patroli keliling kota, keliling pom bensin minta BBM gratisan! Udah dilirik sinis ama orang, terima gaji kok seupil!"

"Tambah lagi, Pak! Katanya kita sipil, tapi kok tunduk sana tunduk sini, hormat sana sini. Siap-perintah sana sini. Kok ya agak kurang sipil gitu loh, Dan!"

"Nambahin lagi, Dan! Kok kami-kami, polisi rendahan yang banyak ini, mesti tunduk sama perintah komandan-komandan yang segelintir? Ini namanya eksploitasi borjuis terhadap proletar, Pak!"

Bayangkan. Waduh, bisa kacau ya. Jadi pekerja, jadi petugas, ternyata sama-sama susah!

Lho jadi yang enak siapa? Yang duduk diam di gedung kurakura, tapi dapet amplop?


Oleh dodi, pada 01:58 am
(19)



Di Mana Budi dan di Mana Ibunya
Monday, April 17, 2006

Keretaapi bergerak dengan kecepatan maksimalnya di atas rel berstandar Indonesia. Di kiri dan kanan, hijau membentang. Sawah, tempat mencuatnya padi yang memberi makan bangsa ini. Pembangunan memberi aksen sesekali, dalam wujud tiang listrik, jalan beraspal, atau bangunan rumah dengan antena menjulang.

Dari dalam gerbong yang sejuk berkat pendingin, tampak mega serupa kapas tersebar di angkasa. Rupanya mereka tak kuasa membendung banjir warna biru yang dipantulkan atmosfer ke bumi. Gerbong itu penuh, tentunya. Khas keretaapi setelah libur panjang akhir minggu. Ada sedikit riuh dari beberapa anak kecil yang bercanda, merengek, atau bertanya ini-itu pada orangtuanya. Untungnya tak bising.

Di gerbong itulah, pada dia (yang dalam hal ini tak signifikan siapa orangnya), saya menceritakan sebuah kisah. Sebuah kisah dari masa lalu. Masa lalu, tentu saja, tak terletak di mana-mana kecuali dalam memori. Atau dalam catatan-catatan yang masing-masingnya mencoba meyakinkan bahwa yang tercatat disitu benar belaka.

Sekitar dua dasawarsa lalu, takdir rupanya membuat saya menyukai mainan yang diberikan orangtua. Mainan itu terdiri dari 26 bentuk huruf, dan 10 bentuk angka. Mungkin ayah maupun ibu bergantian menunjukkan pada saya, yang mana huruf A dan bagaimana melafalkan C. Saya tak yakin saya benar-benar memiliki cukup kesadaran untuk menyenangi huruf-huruf. Entahlah, mungkin semacam insting saja yang membimbing.

Hasilnya, sebelum masuk taman kanak-kanak, saya sudah bisa membaca. Walau seringkali yang dibaca tak memberi makna apa-apa. Di taman kanak-kanak tahun 1985, ketika saya berumur empat tahun, kemampuan membaca tidaklah perlu. Sehari-hari kami hanya bermain. Menggambar. Jalan-jalan. Dan kegiatan menyenangkan lainnya.

Dua tahun berlalu. Beberapa hal terjadi, yang menyebabkan keluarga kami berpindah tempat tinggal. Di kelas 1 sekolah dasar, tahun 1987, kurikulum menggariskan pelajaran membaca bagi siswa. Jadi di kelas, buku berwarna merah tua dibagikan pada kami. Bentuknya persegi panjang. Di dalamnya ada i-n-i i-b-u b-u-d-i dan deretan kalimat singkat lain untuk pelajaran membaca.

Tapi saya sudah bisa membaca. Jadi sementara seluruh kelas bersama-sama mengeja huruf, saya memilih membolak-balik halaman buku. Melihat-lihat gambar yang ada. Melihat-lihat halaman di belakang yang makin dipenuhi huruf. Juga menoleh-noleh ke kiri dan ke kanan juga ke belakang saya. Melihat Pak Guru mengetuk-ngetuk penggaris kayu ke papan tulis.

Tapi rupanya, di tahun 1987, keseragaman adalah keniscayaan. Gerak-gerik saya terpantau oleh Pak Guru. Dia memarahi saya karena tak ikut mengeja. Saya tak melawan. Tak ada gunanya saya berteriak saya sudah bisa membaca. Terlebih lagi, saya rasa, saya tak begitu paham mengapa Pak Guru menjadi gusar saat itu.

Dan di depan kelas, membelakangi papan tulis, tepat di bawah Garuda Pancasila yang diapit foto Pak Presiden Soeharto dan Pak Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah, saya berdiri. Dengan satu kaki terangkat, dan kedua tangan memegang telinga. Pak Guru mengganjar setrap.

Kelas kemudian melanjutkan belajar membaca bersama. Tanpa saya, hari itu. Karena saya harus tetap dalam posisi setrap, yang untungnya dimoderatkan oleh Pak Guru sehingga saya boleh berdiri dengan kedua kaki.

I en i ini. Be u bu, de i di. Ini Budi. I en i, ini. I be u, Ibu. Be u bu, de i di.

Ini Ibu Budi.


Oleh dodi, pada 12:55 am
(24)




bacaan! login img 1n3x Aban An Anakbaik Ayu Bea Blub Cipi Crey Cta De Dessy Didats Dv Dinky Enda Fahmi Femmy F-R-G G.B.T. Gina Gio Ichanx Iebud Ika Ikez Indie Jane Joey Kuda Lika Maknyak Mamatz Maria Mea Miranda-(2) Mput N[a] Nazla Nova Pyro Rara Rur Sandra Santie Shofa Sitta-(2) Siwoer Sunshower Vi3 Viga Yusie

Blogdrive



Free Domain Name - www.YOU.co.nr

Belanja clothing Bandung online? Klik: